Mengapa kita begitu gelisah mencari tujuan hidup kita?

>> background: maslow’s hierarchy needs

>> pengaruh sosial media dan personal branding

>> banyak yang mencoba “monetize”  keadaan saat ini untuk  membantu kita menemukan tujuan hidup kita, pada akhirnya kecewa karena kita berharap selesai sesi kita akan diberikan jawaban “inilah tujuan hidupmu”.

>> Kita berusaha membeli tujuan hidup karena budaya instant sekarang ini.

Beberapa mitos tentang tujuan hidup yang selama ini membatasi pikiran saya dan menghambat saya dalam menemukan tujuan hidup:

Tujuan hidup ada di luar sana

>> tujuan hidup itu tidak akan bisa ditemukan di luar sana

>> we have to do our homework, start with why. tentukan makna hidup yang ingin kita jalani, this is our why. lakukanlah kegiatan2 yang selaras dengan makna tersebut. dan seiring berjalannya waktu dan semakin dalam kita menghidupi makna tersebut kita akan dapat dengan jelas menyatakan apa tujuan hidup kita. 

Hanya ada satu tujuan hidup

Salah satu sumber kebingungan utama yang saya hadapi selama pencarian tujuan hidup adalah bahwa hanya ada satu saja tujuan hidup yang harus saya temukan. Semacam mencari jarum di atas tumpukan jerami. Akhirnya saya jadi malas mencari karena udah kebayang dulu sulitnya, walaupun pikiran selalu terarah pada tumpukan jerami tersebut dan menyebabkan sulit sekali bagi saya untuk mempraktekkan mindfulness. 

Setelah membaca cukup banyak artikel dan mendapatkan insight-insight dari orang-orang yang kompeten di bidangnya, saya menyimpulkan bahwa tujuan hidup saya dapat saja berubah seiring perubahan siklus kehidupan saya. Justru itulah yang menunjukkan bagaimana kita bertumbuh dalam kehidupan ini. 

Tujuan hidup saya saat ini ketika masih single dan bebas, tentu akan berubah ketika saya nantinya menikah dan memiliki anak. Tujuan hidup saya selama bekerja sebagai karyawan tentu juga akan berubah jika nanti saya menjadi seorang sociopreneur. 

Walaupun tujuan kita dapat berubah-ubah, makna hidup harus tetap menjadi benang merah yang menghubungkan mereka. 

Tujuan hidup itu harus wah

Salah satu efek buruk dari kemudahan personal branding di jaman sekarang ini adalah orang berlomba-lomba memamerkan tujuan hidup mereka. Tujuan hidup jaman now itu seperti harus dapat menyelesaikan masalah global, seperti menghentikan pemanasan global atau menurunkan tingkat kemiskinan nasional.

Kalau tujuan hidupmu “hanya” menjadi ibu yang baik bagi anak-anakmu, kamu akan merasa bahwa mungkin itu bukanlah sebuah tujuan yang pas dan kemudian merasa pesimis ketika tidak berhasil menemukan tujuan yang “pantas”. 

Ingat, tujuan hidupmu adalah untukmu sendiri bukan untuk dijadikan perlombaan dengan orang lain. Kembali ke makna hidup yang ingin kamu hidupi dan selama kamu berada di jalan tersebut, sesederhana apapun tujuan hidupmu itu sudah sangat cukup berarti bagi hidupmu. 

Lebih baik menjalani tujuan hidup yang sederhana ketimbang hanya jalan di tempat sambil mencari tujuan yang wah.

Tujuan hidup berasal dari pekerjaan atau karir kita

Ketika kata “tujuan hidup” terlintas di pikiran kita, sebagian besar (bahkan mungkin semua) dari kita pasti mengaitkannya dengan pekerjaan atau karir kita. Sehingga kita mati-matian mencari pekerjaan tersebut dan kemungkinan menemukannya sangatlah kecil. Jika anda adalah salah satu orang beruntung yang berhasil menjalankan pekerjaan anda sebagai tujuan hidup anda, selamat!

Gabriel Mizrahi dalam sebuah podcast bersama Jordan Harbinger menyampaikan bahwa tujuan hidup tidak hanya dapat dihasilkan dari pekerjaan kita, tetapi juga dari berbagai area lain dalam hidup kita misalnya: hubungan keluarga, hubungan pertemanan, volunteering, dll. Ketika kita terlalu fokus dengan mencari tujuan hidup dalam pekerjaan kita, malah kita akan kehilangan kesempatan menemukan makna dari area-area lain.

Menemukan tujuan hidup akan membuat hidup saya bahagia

Ini adalah miskonsepsi terbesar tentang tujuan hidup. Mitos ini menambah beban kita dalam perjalanan mencari tujuan hidup. Kita merasa bahwa tujuan hidup inilah kunci ajaib yang akhirnya akan membuka pintu kebahagiaan yang kita idam-idamkan itu. 

Pada kenyataannya justru banyak orang yang sudah hidup sejalan dengan tujuannya yang justru mengatakan bahwa tujuan hidup dapat membawa stress dan kecemasan, walaupun akan ada lebih banyak kegembiraan yang dirasakan ketika mereka melakukan aktivitas-aktivitas yang sesuai tujuan hidup mereka. 

Di sinilah pentingnya untuk kita menyadari terlebih dahulu bahwa tujuan hidup itu tidak serta merta membuat hidup kita lebih mudah. Ketika saya menyadari hal ini, jujur saya merasa lebih lega dan tidak terlalu stress lagi memikirkan keadaan saya saat ini yang belum menemukan tujuan hidup saya sendiri.

Kesadaran ini juga mengurangi ekspektasi saya akan hidup yang serba ideal ketika saya menjalankan tujuan hidup saya. Akan banyak hal tidak ideal yang akan terjadi and it’s ok. Bukan berarti tujuan hidup itu salah selama apa yang kita lakukan masih selaras dengan makna hidup yang telah kita tentukan di awal. 

Bagi saya pribadi, keluar dari pemahaman-pemahaman salah yang telah saya sebutkan di atas adalah langkah pertama yang membukakan mata saya. Kalau teman-teman sadari, dalam tulisan di atas saya banyak sekali menggunakan kata “makna hidup”. Nah, kita bahas lebih lanjut tentang makna hidup ini di postingan selanjutnya ya. Stay tune!

Bagaimana dengan kalian, apa mitos-mitos yang menghambat kalian dalam pencarian tujuan hidup? Atau mungkin ada yang sudah hidup selaras dengan tujuan hidupnya? Share cerita kalian di kolom komen ya!

Feel free to share this post if you think it can help others 🙂